Bab Seratus Sembilan: Lu Weiwen
Wilayah Tengah.
Terletak di jantung wilayah bintang, tempat ini jauh lebih luas dan makmur dibandingkan empat wilayah bintang lainnya.
Markas Besar Pengolah Energi Khusus.
“Belakangan ini, sudah ada orang yang diam-diam menyelidiki asal-usul Pengolah Energi Khusus kita. Seharusnya mereka menyadari ada sesuatu yang janggal setelah terjadi masalah di pihak Zelan,” kata Lu Weiwen, kepala markas Pengolah Energi Khusus, kepada Guo Zhiyong.
Akhir-akhir ini, cukup banyak cabang yang melaporkan bahwa ada orang-orang yang sengaja maupun tidak sengaja menyelidiki informasi mengenai mereka.
Semua itu mulai terjadi setelah sebuah toko jaringan di Zelan mengalami masalah.
“Lain kali, selama kita berhasil menangkap orang-orang yang menyelidiki informasi kita, kita bisa mengikuti jejak mereka dan mencari tahu siapa yang membunuh orang-orang di cabang kita,” ujar Lu Weiwen setelah berpikir sejenak. “Nanti akan kuperintahkan seseorang untuk menanganinya.”
Guo Zhiyong mengangguk menyetujui usul Lu Weiwen. Bagaimanapun, cara itu lebih baik daripada mencari tanpa arah.
“Orang-orang dari cabang Zelan juga akan segera kembali ke Wilayah Tengah. Kurasa Zelan sekarang sudah dihancurkan oleh Balairung Sembilan Naga,” kata Guo Zhiyong lagi kepada Lu Weiwen.
Ketika ia kembali, Balairung Sembilan Naga masih belum bertindak. Setelah selama ini berlalu, ia memperkirakan Zelan seharusnya telah jatuh.
Selain itu, Wan Cai dari cabang mereka juga telah memberinya sedikit informasi mengenai keadaan Zelan.
“Untuk saat ini, kita tidak perlu mengurusi masalah Zelan. Tak seorang pun dari pihak kita di Kota Sembilan Naga yang bisa dihubungi. Ditambah lagi dengan kabar yang belakangan ini beredar luas, kurasa telah terjadi kekacauan besar di wilayah bintang itu,” Lu Weiwen menyampaikan berita lain kepada Guo Zhiyong. “Namun, masalah ini masih perlu dikonfirmasi. Tetua Ketiga, merepotkanmu untuk pergi sendiri ke sana.”
Saat Yan Zhonghong menyampaikan berita itu, isi pesannya sendiri sudah terdengar sangat tidak masuk akal. Setelah dibumbui oleh beberapa orang, kabar tersebut pun semakin lama semakin berlebihan.
Versi yang sampai ke telinga Lu Weiwen bahkan telah berubah menjadi cerita bahwa iblis telah muncul di Kota Sembilan Naga. Bahkan ramalan kuno itu pun ditafsirkan secara semakin liar.
Lu Weiwen tentu saja tidak memercayainya, tetapi ia bersedia percaya bahwa sesuatu memang telah terjadi di Kota Sembilan Naga.
Guo Zhiyong mengangguk. “Kalau begitu, aku akan pergi ke Wilayah Bintang Sembilan Naga. Kepala Lu, berhati-hatilah terhadap kekuatan yang menyelidiki informasi kita dari balik layar. Aku khawatir asal-usul mereka juga tidak sederhana.”
Lu Weiwen menyetujuinya, dan Guo Zhiyong pun pergi.
Lu Weiwen berjalan ke dekat jendela. Ia memandangi kerumunan orang yang berlalu-lalang di luar dalam diam.
Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, ia telah mengembangkan Pengolah Energi Khusus hingga menjadi organisasi sebesar ini. Kini, akhirnya ada sejumlah kekuatan yang mengincar mereka. Ia tidak tahu apakah dirinya mampu menghadapi semua itu.
Wilayah Bintang Nuoshuang.
Beberapa hari terakhir, Bing Ning sering pergi ke daerah terlarang, baik ketika ada urusan maupun tidak. Namun, setiap kali memasuki tempat itu, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Ketika Bing Ning menyuruh Bing Yixiao membersihkan kembali jurang yang membeku, darah yang sebelumnya mengalir di sana telah lenyap.
Bing Ning akhirnya memastikan bahwa Iblis Darah memang telah berhasil membebaskan diri dari segelnya.
Beberapa hari kembali berlalu. Wilayah Utara tetap damai. Tidak ada seorang pun yang ditemukan tewas karena seluruh darahnya diisap.
“Menurut kalian, ke mana Iblis Darah mungkin pergi setelah terbebas dari segelnya?” Bing Ning duduk di kursi utama ruang rapat. Suaranya yang dingin mengandung kebingungan saat ia bertanya kepada mereka.
Beberapa orang mulai berbisik-bisik dan berdiskusi. Namun, setelah sekian lama, mereka tetap tidak menemukan kesimpulan apa pun.
“Bing Yixiao, kau dulu yang bicara.” Melihat para tetua yang telah berdiskusi cukup lama tetapi tidak menghasilkan apa-apa, Bing Ning mengalihkan pandangan kepada Bing Yixiao, yang sedang menunduk di atas meja sambil mengorek kukunya.
Bing Yixiao buru-buru meletakkan kedua tangannya di bawah meja dan duduk tegak.
“Menurutku, dia seharusnya sudah melarikan diri. Mungkin sekarang dia bahkan sudah meninggalkan Wilayah Utara,” kata Bing Yixiao asal-asalan.
Ia telah membaca beberapa lembar informasi itu dengan saksama. Di dalamnya terdapat beberapa catatan yang sangat jelas.
Iblis Darah takut dingin. Semakin dingin lingkungannya, semakin besar tekanan yang harus ditanggungnya.
Berdasarkan keterangan itu, Bing Yixiao menyimpulkan bahwa Iblis Darah telah meninggalkan Wilayah Utara.
Bing Ning baru saja hendak menanyakan alasannya ketika Bing Yixiao memotong, “Kak Ning, tolong tampilkan lagi informasi yang kita lihat sebelumnya.”
Bing Ning tidak memahami maksud Bing Yixiao, tetapi tetap melakukan apa yang dimintanya.
Lembar-lembar informasi yang sama kembali ditampilkan. Bing Yixiao memadatkan sebatang tongkat es tipis dan panjang, lalu menunjuk salah satu bagian.
“Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku yakin Iblis Darah tidak lagi berada di Wilayah Utara. Setelah membaca bagian ini, coba analisis lagi.”
Setelah mengatakannya, Bing Yixiao menarik kembali tongkat es itu dan memainkannya di tangannya.
Bing Ning menatap bagian tersebut dengan bingung. Cao Huanjun juga memperhatikannya dengan ekspresi heran, tidak mengerti mengapa Bing Yixiao bisa begitu percaya diri.
Setelah selesai membaca, wajah semua orang perlahan menunjukkan kesadaran.
“Pantas saja! Ternyata karena alasan ini. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya?” Cao Huanjun menepuk meja, membuat yang lain terkejut dan mengira sesuatu telah terjadi padanya.
“Sekarang Iblis Darah juga sudah tidak berada di Wilayah Utara. Kalian bisa sedikit lebih santai. Tidak ada orang yang mau datang ke tempat sedingin dan sesunyi ini,” kata Bing Yixiao dengan ringan.
Hampir tidak ada orang dari wilayah lain yang datang ke Wilayah Utara. Kebanyakan tidak tahan dengan cuaca ekstrem dan buruk di tempat itu.
Selain itu, wilayah bintang terbesar di Wilayah Utara hanyalah Nuoshuang.
“Jangan bicara sembarangan, Bing Yixiao. Meskipun Iblis Darah melarikan diri dari Wilayah Utara, menurutmu apakah kita tidak memiliki tanggung jawab?” Bing Ning membantah dengan dingin. “Bagaimanapun juga, kita tidak boleh membiarkan Iblis Darah berkeliaran bebas. Jika orang-orang mengetahui masalah ini, tetap saja kitalah yang harus turun tangan mencarinya.”
Bing Ning tidak ingin orang lain berkata bahwa Iblis Darah melarikan diri dari Wilayah Utara, sementara mereka sama sekali tidak melakukan apa-apa dan membiarkannya mencelakai wilayah bintang lain.
Bagaimanapun, Bing Ning adalah orang yang menjunjung moral. Ia juga sangat takut terjebak oleh tuntutan moral.
Semua orang mengangguk serempak. Mereka menganggap perkataan Bing Ning sangat masuk akal. Namun, siapa yang harus dikirim untuk menangani masalah Iblis Darah kembali menjadi persoalan.
Pada akhirnya, Bing Ning memutuskan untuk mengirim Bing Yixiao lebih dahulu, sementara yang lain bertugas mencari informasi di wilayah-wilayah bintang sekitar.
Dengan wajah penuh keengganan, Bing Yixiao berjalan keluar dari ruang rapat. Semua pekerjaan berat selalu diberikan kepadanya. Terakhir kali di daerah terlarang saja ia hampir kelelahan sampai mati, dan sekarang ia masih harus pergi mencari Iblis Darah.
Setelah melarikan diri dari Nuoshuang, Iblis Darah terus terbang melintasi angkasa. Ia sama sekali tidak menyadari bayangan hitam yang terus mengikutinya dari belakang.
Saat itu, Iblis Darah telah meninggalkan Wilayah Utara. Ia tidak lagi merasakan hawa dingin.
Namun, ia sudah lama kelelahan. Setelah disegel selama bertahun-tahun, ia sama sekali tidak tahu seperti apa keadaan dunia luar.
Setiap kali melihat benda-benda logam besar yang melintas di angkasa, ia selalu menghindarinya.
Melihat benda-benda logam raksasa itu melesat dengan kecepatan luar biasa ke kejauhan, ia mengira semuanya merupakan senjata pusaka milik para tokoh besar.
Kota Muye, di tepi Wilayah Timur.
Iblis Darah bersembunyi di tengah kota. Saat memandangi kota yang penuh warna dan gemerlap, ia hampir kehilangan kesadaran akan dirinya sendiri.
Ia belum pernah melihat gedung-gedung setinggi ratusan meter, apalagi kapal-kapal bintang kecil yang berlalu-lalang di jalanan.
Setiap kali sebuah kapal bintang kecil melintas di dekatnya, ia akan menekan auranya serendah mungkin, takut orang-orang di dalamnya menyadari keberadaannya.
“Apakah para kultivator sekarang sudah begitu kuat? Di mana-mana ada tokoh besar yang mengendalikan senjata pusaka untuk bepergian,” gumam Iblis Darah sambil memandangi kapal-kapal bintang itu dengan takjub.
Perut Iblis Darah terasa perih karena lapar. Pembebasan dari segel telah menghabiskan sebagian tenaganya, dan pelarian panjang membuatnya semakin lelah serta kelaparan.
Kalau hal ini terjadi di masa lalu, ia pasti sudah merampok seseorang tanpa ragu. Namun sekarang, ia tidak berani melakukannya.
Berdiri seorang diri dengan tatapan kosong di tengah Kota Muye, tiba-tiba ia merasa bahwa dunia ini begitu luas, tetapi tidak ada tempat yang bisa dijadikannya sebagai perlindungan.
“Hei, belilah sesuatu untuk dimakan. Dari sini saja suara perutmu sudah terdengar keroncongan,” kata seorang pria paruh baya berpakaian rapi sambil melemparkan segenggam koin bintang kepada Iblis Darah yang sedang duduk di tanah.
Iblis Darah bahkan telah lupa seperti apa rasanya lapar. Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya tidak makan.
Namun, setelah mendengar perkataan pria paruh baya itu, ia memang mulai ingin menyantap sesuatu.
“Terima kasih.” Iblis Darah memungut beberapa koin bintang itu dan memandanginya. Ia menyadari bahwa mata uang tersebut sama sekali berbeda dari uang yang dahulu digunakannya.
“Tidak perlu berterima kasih. Uang sebanyak itu tidak bisa membeli banyak hal,” ujar pria paruh baya itu dengan tenang sambil berjongkok di hadapan Iblis Darah.
Barulah saat itu Iblis Darah menyadari bahwa meskipun pria tersebut berpakaian rapi, penampilannya tampak agak lusuh.
Iblis Darah mulai berpikir apakah ia harus membunuhnya.
“Aku mengira hidupku sudah sangat menyedihkan. Namun, setelah melihat keadaanmu, barulah kusadari bahwa aku telah salah,” kata pria paruh baya itu sambil menatap pakaian Iblis Darah yang compang-camping.
Pakaian yang dikenakan Iblis Darah dipungutnya setelah meninggalkan Wilayah Utara. Awalnya ia ingin merampas pakaian orang lain, tetapi ketika melihat kapal bintang melintas, ia mengurungkan niatnya. Siapa yang tahu, jika ia bertindak, apakah para tokoh besar di dalam senjata pusaka itu akan keluar dan membunuhnya?
Iblis Darah pada akhirnya tidak menyerang pria tersebut. Ia hanya mengobrol dengannya sesekali.
Pertanyaan-pertanyaan Iblis Darah membuat pria paruh baya itu kebingungan. Ia bahkan mulai curiga apakah orang di hadapannya mengalami gangguan pikiran.
Entah karena sudah terlalu lama tidak berbicara dengan orang lain atau karena alasan lain, meskipun menganggap Iblis Darah agak gila, pria paruh baya itu tetap menjelaskan dengan terperinci mengenai kapal-kapal bintang dan berbagai benda lainnya.
Ketika pria itu mengatakan bahwa satu tembakan dari kapal Titan raksasa mampu menghancurkan seluruh benda langit, tubuhnya langsung gemetar ketakutan.
Ia tidak tahu apakah tubuhnya sanggup menahan satu tembakan semacam itu.
Bagaimanapun pria paruh baya itu menjelaskan bahwa kapal-kapal tersebut bukan senjata pusaka, Iblis Darah tetap tidak memercayainya. Ia bersikeras bahwa benda-benda itu memang senjata pusaka.
Orang biasa pasti tidak mungkin menguasai kekuatan sebesar itu.
Dengan uang yang ada, pria paruh baya itu membelikan sedikit makanan untuk Iblis Darah. Mereka duduk di tanah dan makan seadanya. Itulah makanan pertama yang disantap Iblis Darah setelah tersegel selama sepuluh ribu tahun.
Bayangan hitam yang bersembunyi di tempat gelap akhirnya tidak tahan melihat semua itu dan keluar.
“Dahulu kau adalah Iblis Darah yang disegani, tetapi sekarang kau ternyata pengecut seperti tikus,” kata pria berjubah hitam yang muncul di hadapan Iblis Darah dengan nada meremehkan.
Pria paruh baya itu baru saja hendak berbicara ketika pria berjubah hitam tersebut mencengkeram lehernya.
“Iblis Darah, apakah kau ingin menyelamatkannya, atau ingin meminum darahnya?” Pria berjubah hitam itu mengendalikan energi spiritual untuk menggores pergelangan tangan pria paruh baya tersebut.
Dengan mengendalikan energi spiritual, pria berjubah hitam itu mengarahkan darah yang mengalir dari luka ke hadapan hidung Iblis Darah.
“Mau mencicipinya? Darah segar.”
Pria paruh baya itu mencengkeram tangan pria berjubah hitam tersebut dan terus memukulnya. Darah dari lukanya pun mengalir semakin deras.
“Lepaskan dia.” Iblis Darah berdiri dan menatap pria berjubah hitam itu dengan dingin.
Aura tahap awal Alam Penembus Roh perlahan menyebar.
“Jadi kau telah jatuh ke tahap Alam Penembus Roh. Hehe, jika kau meminum darah orang ini, seharusnya kekuatanmu akan pulih sedikit.” Pria berjubah hitam itu kembali mengendalikan energi spiritual dan membuka luka di lengan pria paruh baya yang satunya, tanpa sedikit pun rasa takut.
Orang-orang yang kebetulan lewat segera menjauh setelah melihat pemandangan itu.
“Aku bilang, lepaskan dia!” Iblis Darah melayangkan tinju ke wajah pria berjubah hitam tersebut.
Dengan mudah, pria berjubah hitam itu menangkap tinju Iblis Darah menggunakan tangan kirinya.
“Kekuatan seperti ini tidak akan mampu menyelamatkannya. Kecuali kau membunuh beberapa orang untuk memulihkan kekuatanmu. Lihat, semakin banyak orang datang menonton,” ujar pria berjubah hitam itu, terus memprovokasi Iblis Darah.
Pria paruh baya yang berada dalam cengkeramannya perlahan berhenti meronta.
Ia telah pasrah.
“Katakan. Apa yang harus kulakukan?” Aura Iblis Darah mendadak mengendur.
Ia tidak tahu siapa orang di hadapannya, tetapi karena pria itu dapat menyebut namanya dengan tepat, asal-usulnya jelas tidak sederhana.
“Bunuh orang-orang yang datang menonton,” kata pria berjubah hitam itu sembari melepaskan pria paruh baya tersebut dan menunjuk kerumunan yang menyaksikan.
Suaranya tidak keras, tetapi semua orang di luar tetap mendengarnya. Namun, kebanyakan dari mereka tidak memercayainya.
Mereka tidak percaya bahwa hanya dengan satu kalimat seseorang bisa menyuruh orang lain membunuh.
“Baik. Aku setuju.” Saat tubuh Iblis Darah berubah menjadi seberkas bayangan darah, samar-samar ia mendengar pria paruh baya itu berteriak agar ia tidak melakukannya.
Namun, Iblis Darah tidak peduli. Ia hanya ingin pria paruh baya itu tetap hidup. Orang-orang di luar sana sama sekali tidak berarti baginya.
Bahkan jika ia membuat para tokoh besar di dalam “senjata pusaka” itu murka, Iblis Darah tetap tidak akan ragu menyelamatkan pria paruh baya tersebut.