Bab Dua Belas: Bahaya yang Mengintai di Setiap Langkah
Hujan kini turun semakin deras, butiran air sebesar biji kacang kedelai jatuh membentuk tirai air. Ma Qianjun perlahan menurunkan pedang panjang dari pundaknya, kemudian menghunusnya dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah sedang memetik sekuntum bunga segar dengan penuh perasaan.
Gu Xiaozhao pun menghunus pedangnya. Bilah pedang melintang di depan dada, tetesan hujan jatuh dan mengenai permukaan pedang, menimbulkan suara berderap. Panjang pedang tiga kaki tiga, terbuat dari baja murni, namun di tiga inci dari ujungnya terdapat retakan halus; jika terkena benturan keras, pedang itu sangat mungkin akan hancur berkeping-keping... Zhaoxueguan diam-diam diaktifkan; saat Gu Xiaozhao menggenggam gagang pedang, riwayat pedang itu pun terlintas di benaknya—keadaannya sungguh tidak baik!
Gu Xiaozhao pun tak kuasa mengerutkan keningnya. Ia menatap lawannya yang berdiri lima zhang di hadapannya.
Ma Qianjun pun diam, matanya menyipit tajam menatap Gu Xiaozhao, seperti sebilah pedang yang mengunci mangsanya tanpa berkedip.
Keduanya saling bertahan sejenak. Ujung kaki Ma Qianjun bergerak pelan, ia mengambil posisi menyerang.
Tatapan Gu Xiaozhao segera turun, mengamati ujung kaki lawannya.
Saat itu, setitik hujan yang ditiup angin jatuh miring ke mata kirinya, langsung mengenai pupil matanya.
Pandangan seketika menjadi buram.
Gu Xiaozhao refleks berkedip.
Pada saat ia menutup mata, tiba-tiba terdengar pekikan kaget dari sekelilingnya.
Dengan cepat ia membuka mata, dan tampak Ma Qianjun telah melayang di udara, menerjang ke arahnya, bagaikan seekor burung putih raksasa yang terbang deras di tengah hujan.
Dalam sekejap, lawannya hampir tiba di hadapan.
Ternyata lawannya terjebak! Menutup mata tadi hanyalah sebuah tipu muslihat Gu Xiaozhao, demi memancing lawannya menyerang. Lawan yang tak menyadari hal ini tentu mengira telah menemukan celah dan akan segera melancarkan serangan.
Pada saat menutup mata, ibu jari tangan kiri Gu Xiaozhao yang sejak tadi menempel pada pelindung pedang, dengan cekatan mendorong bilah pedang keluar, sehingga pedang tiga kaki itu langsung terlepas tiga inci dari sarungnya. Di waktu bersamaan, tangan kanannya telah menggenggam gagang, dan dengan suara nyaring, pedang pun terhunus, berkilauan bagai air musim gugur, tergantung di samping tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya melesat ke belakang seperti anak panah lepas dari busurnya.
Di udara, Ma Qianjun mengambil posisi seperti burung garuda mengepakkan sayap, satu kakinya tegak di udara, satu lagi terangkat ke samping. Tangan kiri memegang sarung pedang yang terangkat miring ke atas, tangan kanan menggenggam pedang panjang yang berkilauan dingin, membelah ribuan titik hujan, membentuk lengkungan indah, menebas lurus ke arah Gu Xiaozhao dengan kekuatan tak terbendung.
Cahaya pedang berkelebat tajam, menerpa lurus ke wajah.
Sejujurnya, meski gerakannya indah, efektivitas jurus itu sesungguhnya kurang baik. Harus dipahami, bagi pendekar di ranah latihan fisik seperti mereka, kaki yang terangkat dari tanah ibarat pohon tanpa akar, sulit untuk melakukan perubahan gerakan.
Teknik pedang memang mengandalkan tangan, namun pondasinya terletak pada langkah kaki: meluncur, menapak, menyamping, berputar...
Berlatih pedang harus dimulai dari langkah kaki—hampir semua murid pedang akan mendengar wejangan itu dari gurunya saat baru belajar.
Tentu saja, Ma Qianjun paham benar akan hal ini.
Pilihan jurus itu merupakan taruhan demi kecepatan. Udara memang memberi hambatan, tapi tak seberat tanah.
Begitu Gu Xiaozhao memperlihatkan celah, ia harus memanfaatkannya secepat mungkin untuk menyerang.
Namun, Ma Qianjun jelas tak menyangka bahwa celah itu sengaja dibuat oleh Gu Xiaozhao. Tebasan pedangnya mustahil mengenai sasaran, bahkan tubuhnya sendiri kini terbuka lebar.
Pada saat ini, Gu Xiaozhao hanya perlu menunduk dan melesat maju untuk menusuk Ma Qianjun yang, saat melayang di udara, tak sempat lagi mengubah jurus atau bertahan.
Namun, pada detik krusial itu, Gu Xiaozhao justru memilih meluncur mundur.
Keputusannya sangat tepat.
Sekalipun ia mundur dengan sangat cepat, kilatan putih yang melesat tetap saja memutus tali pengikat rambut di dahinya, ikut menebas beberapa helai rambut yang terurai, serta hawa dingin yang menusuk melewati ujung hidungnya, menoreh permukaan tanah di bawah kakinya hingga membentuk parit lumpur sedalam tiga inci dan panjang tiga kaki.
Itulah hawa pedang!
Itu benar-benar hawa pedang!
Orang-orang di sekitar langsung gempar.
Ma Qianjun ternyata telah melampaui batas latihan fisik dan memasuki ranah pengolahan qi!
Ia telah membuka titik Baihui di puncak kepalanya, sehingga alam semesta kecil dalam tubuhnya tersambung dengan alam semesta besar di luar; kini, tanpa perlu lagi bernapas secara khusus, ia bisa menyerap energi langit dan bumi, juga mampu menyalurkan energi murni keluar tubuh menjadi serangan mematikan...
Itulah ranah pengolahan qi.
Tadi, pedang Ma Qianjun sebenarnya tak mungkin mengenai Gu Xiaozhao, tubuhnya pun sulit mengubah posisi di udara; seandainya saat itu Gu Xiaozhao menyerang, kemungkinan besar ia bisa menusuk celah lawan. Namun, setelah memasuki ranah pengolahan qi, hawa murni bisa disalurkan melalui meridian lalu diteruskan melalui pedang hingga menjulur keluar tiga kaki.
Dengan begitu, celah pun bukan lagi celah.
Tampak seperti kesalahan, kenyataannya itu adalah jebakan.
Andai Gu Xiaozhao tak menguasai teknik penelusuran qi atau tak mampu merasakan aliran energi Ma Qianjun di saat genting, ia pasti telah terjebak.
Dan akibatnya adalah kematian.
Saat kau memasang jebakan untuk orang lain, bisa jadi orang lain telah lebih dulu menjeratmu.
Dalam duel hidup-mati, tak boleh lengah sedikit pun!
“Ranah pengolahan qi!”
“Dia sudah mencapai ranah pengolahan qi!”
“Ma Qianjun benar-benar pandai menyembunyikan kemampuannya!”
“Dengan kemampuan itu, ia bisa masuk ke akademi atas untuk berlatih. Kenapa masih bertahan di akademi bawah bersama kita?”
“Kau tak tahu. Ma Qianjun telah mengkhianati tuannya, dijauhi manusia dan makhluk halus. Di akademi atas, kebanyakan adalah anak keluarga bangsawan. Kalau ia berani ke sana, mungkin sudah lama tewas…”
Di dalam halaman, para murid yang menyaksikan duel itu langsung berseru kaget.
Saat itu, Mo Jue pun tak sempat menegur mereka; wajah tuanya yang legam tampak berkilau seperti diolesi minyak, matanya penuh semangat yang sulit disembunyikan.
Tujuh belas tahun, sudah mencapai ranah pengolahan qi—ia sendiri ternyata meremehkan bocah itu.
Bahkan anak bangsawan yang sejak kecil mendapat limpahan sumber daya pun jarang bisa sampai sejauh ini, apalagi seseorang yang dijauhi semua orang.
Adapun Gu Xiaozhao, Mo Jue mengakui bahwa ia berhasil menghindar dengan baik.
Namun, ia sama sekali tak percaya Gu Xiaozhao benar-benar memahami pola serangan Ma Qianjun dan tahu lawannya akan menyalurkan hawa murni, sehingga memilih mundur.
Menurutnya, pada saat itu Gu Xiaozhao pasti gentar, padahal Ma Qianjun telah membuka celah besar, ia tetap saja tak berani menyerang, malah tanpa sadar memilih menghindar—beruntunglah ia lolos dari maut.
Memang benar-benar lemah!
Mo Jue menyipitkan mata, menatap Gu Xiaozhao yang pucat pasi, tanpa sadar berdiri dari duduknya.
Bunuh dia!
Sebuah suara mengaum di dalam hatinya.