Bab Tiga Puluh Lima: Kematian Zhan Duan
Tepat ketika Gu Xiaozhao memilih memasuki Puncak Tersembunyi, pada saat yang sama, di pegunungan Hengduan yang terletak ratusan li jauhnya, sebuah pertarungan sengit telah memasuki babak akhir.
Zhan Duan berlari terhuyung-huyung ke depan. Daun dan ranting pohon, semak berduri serta sulur liar menghantam wajahnya, namun ia tidak mampu menghindar, hanya bisa menundukkan kepala dan menerobos lurus, berjuang agar tidak terjatuh. Tubuhnya bak kantong air bocor, penuh luka, darah segar mengalir deras dari setiap robekan kulit, tak peduli apapun yang dilakukan, aliran itu tak bisa dihentikan.
Sebagai pendekar tingkat kelima ranah penempaan qi, Zhan Duan mengolah teknik Air Hitam Murni. Ketika energi dahsyat itu mengalir di seluruh tubuh, kekuatannya tak pernah surut, laksana air hitam di kedalaman neraka, bahkan baja pun mampu dipotongnya. Karena itulah, ia mampu bertahan begitu lama walau dikepung banyak pendekar.
Setelah menerima surat bertanda pribadi Gu Quan, ia segera berangkat, sesuai rencana ia akan bertemu utusan Gu Quan di bawah Tebing Rajawali, untuk mengambil beberapa sumber daya. Hal seperti ini sudah beberapa kali ia lakukan tanpa pernah celaka. Namun, kali ini yang menantinya bukanlah kawan, melainkan jebakan musuh.
Lima orang mengepungnya; dua di antaranya lebih lemah, namun tiga lainnya sekuat dirinya. Melawan salah satu saja sudah sulit, apalagi dikeroyok tiga. Yang paling menyulitkan, ada di antara mereka yang ahli membuntuti. Walaupun ia nekat menerobos kepungan dengan risiko luka berat, tak lama kemudian mereka pasti bisa menemukannya lagi di belantara pegunungan. Segala cara dan siasat telah dicoba, tapi akhirnya ia tetap tak bisa lolos.
Kini, ia benar-benar kehabisan jalan. Saat berusaha kabur terakhir kali, punggungnya dihantam telak. Lawannya menggunakan energi dahsyat api, teknik Matahari Agung yang justru bertolak belakang dengan teknik Air Hitam-nya. Pukulan itu menjadi beban terakhir yang menghancurkan segalanya.
Energi Air Hitam Zhan Duan punah total, ginjal yang menjadi pusat kekuatan itu juga hancur parah, nyaris remuk redam. Kini, jangankan mengerahkan tenaga dalam, sekadar menggerakkan qi biasa pun sudah tak mampu. Ia seperti kereta tua berkarat, dan yang menariknya bukan kerbau atau kuda, melainkan anak ayam yang baru belajar berkokok.
Karena itu, darah terus memancar dari seluruh tubuh, tak mampu dikendalikan. Kakinya goyah, tubuhnya terguling dari lereng, menerjang semak dan sulur, hingga akhirnya membentur akar pohon besar. Ia terguling beberapa kali lagi, lalu terhenti di sebidang tanah lapang di lembah.
Ia terbaring telentang, dadanya naik turun perlahan. Langit tampak di matanya, awan tebal berarak bak kapas, pandangannya samar, entah memang langit demikian, atau retina matanya sudah dipenuhi darah. Kenangan masa lalu melintas satu per satu di benaknya.
Zhan Duan berasal dari keluarga miskin. Sejak kecil ia suka senjata dan bela diri, sering memanjat dinding perguruan sebelah untuk mengintip orang berlatih. Hingga akhirnya, pemilik perguruan menerimanya sebagai murid. Berkat bakatnya dan dukungan penuh sang guru, ia segera mencapai puncak penempaan tubuh. Namun, tanpa keberuntungan khusus, hidupnya pun akan berakhir di situ saja.
Ia tak pernah mendapat pil peningkat level. Sekalipun gurunya mau mengorbankan segalanya demi mengumpulkan uang, mereka tetap tak punya jalan untuk membeli pil itu. Barang seperti itu adalah sumber daya strategis milik sekte besar dan keluarga bangsawan, uang saja tak cukup untuk membelinya.
Di masa itu, ia berkenalan dengan Gu Quan. Saat itu, Gu Quan adalah murid baru di perguruan. Ia tak tahu jati diri Gu Quan sebenarnya. Mereka berdua sama-sama menyukai putri sang guru, yang kelak menjadi ibu Gu Xiaozhao. Hasil akhirnya sudah jelas, Gu Quan yang tampan dan menawan jauh lebih menarik bagi sang gadis, sementara Zhan Duan bertubuh besar dan kaku, tak pandai bicara, sehingga kalah pun bukan hal yang aneh.
Hal itu sudah lama ia duga. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri diam, diam-diam memberkati pasangan itu. Namun, serangkaian peristiwa membuat hubungannya dengan Gu Quan nyaris retak. Saat itulah ia tahu, Gu Quan adalah putra utama keluarga Gu yang telah bertahan seribu tahun, dan telah menikah dengan wanita dari keluarga Liu, keluarga yang bahkan lebih berkuasa dari Gu.
Sebelum semua itu, dengan bantuan Gu Quan, ia berhasil menembus ranah penempaan qi. Semenjak itu, ia menjaga ibu Gu Xiaozhao, melindunginya dari segala ancaman, namun ia tak berdaya menghadapi kematian saat melahirkan.
Sebelum wafat, ibu Gu Xiaozhao memohon padanya untuk menjaga anaknya, memastikan ia tumbuh sehat dan bahagia. Itulah alasan seorang pendekar ranah qi rela menjadi pelayan, selalu berada di sisi Gu Xiaozhao, sekaligus alasan utama Gu Xiaozhao bisa tetap hidup sampai sekarang.
Namun kini, ajalnya sudah dekat!
Senyum getir terbit di sudut bibir Zhan Duan. Wajah perempuan yang ia kagumi di masa muda tampak jelas di langit; mata bening, gigi putih, senyum tipis menawan, menatapnya dengan malu-malu, persis seperti pertama kali ia memandang dari atas dinding.
Justru karena wanita itulah, ayahnya mau menerima anak miskin seperti dirinya sebagai murid.
“Pak!”
Terdengar suara ranting kering terinjak. Mungkin para pengejarnya sudah tiba? Pikiran itu melintas, namun Zhan Duan tak menoleh, hanya terus menatap langit, pada wajah yang hanya hidup dalam ingatan.
Akhirnya, sebuah wajah hitam legam dan pendiam muncul dalam pandangannya. Pria itu mengenakan pakaian abu-abu dan caping, sorot matanya tajam dan kejam, seperti elang yang siap menerkam mangsa. Pria inilah yang secara tiba-tiba menyerangnya dan memutuskan jalan pelariannya.
Pria itu melirik Zhan Duan, lalu memanggil rekannya dengan suara rendah.
“Mendekatlah!”
Suaranya terdengar samar, seperti ada sesuatu terselip di bawah lidahnya.
Seseorang yang juga memakai caping muncul dalam pandangan Zhan Duan. Melihat orang itu, pupil matanya menyempit. Meski sekarat, ia masih terkejut.
Itu adalah orang tanpa wajah.
Wajahnya begitu licin, selain mata tak ada apa-apa, seperti kertas putih dengan dua lubang.
“Perhatikan baik-baik orang ini!” suara pria satunya terdengar lagi. “Nanti kau harus berubah menjadi dirinya, jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Setelah itu, kau harus menyelinap ke dekat target, lalu cari kesempatan…”
“Ah!”
Terdengar suara serak dari tenggorokan Zhan Duan, pupilnya membesar, wajahnya menampakkan kepanikan, juga kemarahan bercampur putus asa.
Gedung Perpisahan!
Ternyata mereka dari Gedung Perpisahan!
Nama organisasi itu terlintas di benak Zhan Duan. Gedung Perpisahan adalah kelompok pembunuh bayaran yang beroperasi di tiga negeri barat daya. Konon markas mereka berada nun jauh di Negeri Qian, namun ada pula yang bilang mereka berpusat di Negeri Shu.
Nama itu bermakna, mereka membantu seseorang berpisah dari dunia ini.
Kelompok pembunuh ini sangat kuat, bahkan pernah menghabisi pendekar luar biasa, dan sekali menjadi target mereka, hampir tak ada yang lolos dari tiga kali upaya pembunuhan. Ya, jika mampu selamat dari tiga kali serangan, Gedung Perpisahan akan melepaskan targetnya. Namun itu hanya legenda di dunia persilatan, kebenarannya masih belum pasti.
“Lian, maafkan aku…”
Setetes air mata mengalir dari sudut mata Zhan Duan, menuruni pipinya. Dalam pandangan yang semakin kabur, orang tanpa wajah itu mengeluarkan dua lembar jimat dari serat rami, satu ditempel di wajahnya sendiri, satu lagi di kening Zhan Duan. Lalu, ia berbaring di sisi Zhan Duan.
Saat itu, pria bercaping satu lagi melangkah maju, membungkuk, kemudian menggores pergelangan tangan Zhan Duan dan orang tanpa wajah itu. Luka mereka disatukan, luka dengan luka.
Setelah itu, pria bercaping itu mulai merapalkan mantra.
Zhan Duan tak lagi jelas mendengar; dunia berputar, ia jatuh semakin dalam ke kegelapan, terus dan terus, hingga akhirnya dilahap gulita.