Bab Tujuh: Penindasan

Nyanyian Perang Seribu Dunia Gu Kecil dari Pegunungan Ba 2426kata 2026-03-04 13:56:15

Angin sepoi-sepoi bertiup lembut, menerpa wajah.
Di dalam angin itu terhimpun bermacam-macam aroma: wangi air sungai yang mengalir deras di sebelah kanan, semerbak bunga liar di kiri, kesegaran rerumputan dan pepohonan yang rimbun, juga bau asap dapur yang menandakan kehidupan manusia...

Menyusuri jalan setapak berbatu biru dengan langkah perlahan, Gu Xiaozhao tiba di tepi sungai.

Sebuah jembatan kayu melintang di atas aliran sungai, permukaan jembatan itu begitu sempit, di bagian tersempitnya bahkan hanya selebar satu sepatu, tak cukup untuk dua orang berjalan berdampingan, dan di tepi jembatan tidak ada pagar pelindung. Balok kayu raksasa yang menjadi badan jembatan tampak lapuk dan rapuh, lubang-lubang bekas gigitan rayap terlihat di mana-mana. Begitu diinjak, seluruh jembatan bergetar hebat, seolah-olah akan runtuh kapan saja.

Jembatan itu menghubungkan dua tebing yang terputus. Di bawah jembatan, permukaan air sungai mengalir deras, tingginya sekitar enam meter dari badan jembatan. Air sungai bergemuruh, sesekali muncul gelembung putih, percikan air melayang hingga beberapa meter ke udara, batu-batu hitam yang tajam kadang menonjol, kadang menghilang diterpa arus...

Menyebrangi jembatan kayu, melewati hutan kecil, terdapat sebuah pekarangan yang menghadap lereng gunung. Di tengah-tengahnya berdiri sebuah aula besar beratap jerami; inilah tempat yang akan dituju Gu Xiaozhao—Aula Shuangzhao.

Hari ini, Gu Xiaozhao berjalan seorang diri.

Biasanya, ia ditemani oleh Gu Chuang.

Di tepi jembatan, ada beberapa pemuda berseragam putih dengan ikat pinggang tali rumput, sama seperti Gu Xiaozhao. Mereka terbagi dalam dua kelompok, bergiliran menunggu kesempatan menyeberang.

Siapa yang datang lebih dulu, boleh menyeberang lebih dulu; begitulah aturannya.

Pakaian putih dengan ikat pinggang rumput adalah seragam murid tahap pelatihan fisik di Kuil Dingshui. Jika sudah naik ke tahap pengolahan energi, mereka akan berganti pakaian hitam dengan ikat pinggang tali rami. Bagaimanapun juga, di lingkungan sekolah atau ruang publik, mereka dilarang mengenakan pakaian mewah.

Semua itu ada alasannya.

Di dunia ini, yang berkuasa adalah keluarga bangsawan dengan sistem hirarki yang sangat ketat. Bangsawan hanya boleh menikah dengan bangsawan; jurang pemisah antara keluarga terpandang dan rakyat biasa sangatlah dalam dan sulit dilampaui. Merubah keadaan itu sama sulitnya dengan membalikkan langit dan bumi.

Sebagian besar perguruan bela diri di Kabupaten Banan hanya menerima anak-anak bangsawan. Sebut saja Perguruan Cahaya Ungu dari Timur yang selalu bersaing dengan Kuil Dingshui memperebutkan gelar perguruan terbaik di Banan; mereka sama sekali tidak menerima murid dari keluarga rakyat biasa. Bahkan untuk anak bangsawan saja, biasanya mereka hanya menerima keturunan utama; anak dari istri kedua apalagi anak selir, sering ditolak mentah-mentah.

Sedangkan perguruan kecil di pasar dan gang, hanya menerima murid dari keluarga sederhana; tempat-tempat seperti itu sama sekali tidak diminati anak-anak bangsawan.

Kuil Dingshui berbeda, mereka menjunjung prinsip "pengajaran tanpa memandang latar belakang".

Hal ini karena Kuil Dingshui memiliki hubungan erat dengan keluarga kerajaan. Para kepala kuil dari generasi ke generasi selalu punya ikatan rumit dengan keluarga raja; bahkan ada yang berasal dari darah kerajaan itu sendiri.

Karena itulah, Kuil Dingshui berani menempuh jalan berbeda.

Selama memiliki bakat, baik anak bangsawan maupun anak rakyat biasa bisa diterima di dalam kuil, bahkan anak dari keluarga miskin sekalipun. Anak bangsawan harus membayar biaya masuk yang tinggi, sementara anak-anak miskin bukan hanya dibebaskan dari biaya, bahkan bisa mendapat bantuan kuil asalkan mereka cukup berprestasi.

Dua kelompok pemuda dari dunia yang berbeda itu, ketika dikumpulkan bersama, tentu saja sering menimbulkan gesekan dan percikan api.

Untuk meminimalisir jarak sosial di antara mereka, para murid diharuskan mengenakan seragam yang sama, dengan harapan bisa menumbuhkan rasa kebersamaan. Tentu saja, apakah itu benar-benar efektif, itu soal lain.

Setibanya di tepi jembatan, Gu Xiaozhao berdiri diam di urutan terakhir.

Dua kelompok di depannya, satu kelompok berdiri di ujung jembatan, meski di antara mereka ada pembagian inti dan pinggiran, tak tampak perbedaan kelas yang nyata; mereka jelas anak-anak rakyat biasa.

Kelompok lain terlihat jelas ada hirarki; beberapa orang mengelilingi dua pemuda utama dengan sikap hormat dan serius, seperti bintang mengelilingi bulan. Kedua orang itu berbincang di antara mereka sendiri, sama sekali tak mempedulikan kehadiran orang lain; mereka pasti anak keluarga bangsawan, sementara yang lain adalah teman belajar mereka.

Saat melihat Gu Xiaozhao, kedua kelompok itu melirik sejenak dengan tatapan terkejut, lalu segera mengalihkan pandangan, tak ada yang menyapanya.

Di Kuil Dingshui, Gu Xiaozhao tak punya teman.

Bukan karena terlalu tampan hingga tak punya teman, melainkan karena alasan keamanan; ia takut dibunuh.

Setiap kali keluar dari paviliun kecil, selalu ada Gu Feiyang dan dua pengawal lain yang menemaninya, semua urusan dengan orang luar diserahkan pada ketiga orang itu.

Yang terpenting, Zhan Duan sang pelindung selalu berada di sisinya, tak pernah berpisah. Bahkan ketika Gu Xiaozhao belajar di Aula Shuangzhao, Zhan Duan pun menunggu di luar, tak pernah pergi.

Datang sendiri seperti hari ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, itulah sebabnya para murid lain menatapnya dengan heran.

Gu Xiaozhao berjalan perlahan ke ujung barisan, tetap diam seperti biasa.

Tak lama kemudian, para murid di depannya satu per satu menyeberang jembatan.

Ketika giliran Gu Xiaozhao tiba, sekelompok orang datang.

Ada tujuh atau delapan orang, namun tokoh utamanya hanya satu. Meski sama-sama mengenakan pakaian putih dengan ikat pinggang rumput, ia tampak berbeda dari yang lain.

Sekilas pandang, ia benar-benar menonjol seperti bangau di antara kawanan ayam!

Dari semua orang itu, hanya dia yang melangkah tegak, dada membusung dan kepala terangkat, sementara yang lain menunduk dan membungkuk. Meskipun seragamnya putih, bahannya terbuat dari sutra, dan ikat pinggang rumputnya berasal dari rumput khusus dari pengrajin Yidu, sangat kuat dan langka, harganya sangat mahal.

Namun, sosok bangau ini sama sekali tak menunjukkan keanggunan, yang tampak hanya kesombongan dan kelakuan sembrono.

Ia melangkah lebar-lebar, gaya jalannya seperti angsa besar berjalan di antara ayam-ayam.

Usianya sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, wajahnya cukup tampan, namun tampak lesu, sepanjang jalan terus menguap. Di bawah mata kecilnya, lingkaran hitam besar membayangi, jelas ia semalam begadang dan kurang tidur.

Orang ini dikenali Gu Xiaozhao, bermarga Zhao, entah namanya persis siapa.

Ia dan Gu Xiaozhao masuk Kuil Dingshui di tahun yang sama, kekuatan bela dirinya hanya sedikit lebih tinggi dari Gu Xiaozhao, kini berada di tahap pertengahan penguatan tulang—itu pun didapat dari bantuan obat-obatan. Di tempat ini, ia sama saja dengan Gu Xiaozhao, sama-sama dianggap murid gagal yang jadi bahan ejekan.

Saat melihat Gu Xiaozhao berdiri sendirian, mata Zhao itu menampilkan sedikit kegirangan.

Ia menoleh pada pelayannya, lalu menunjuk Gu Xiaozhao yang hendak naik ke jembatan.

Pelayannya adalah pemuda kekar berusia sembilan belas tahun, paham isyarat tuannya, mengangguk pelan, mempercepat langkah, berjalan menuju Gu Xiaozhao dengan gaya jumawa.

Sambil berjalan, ia berseru,

"Hei, yang di depan, berhenti..."

Mendengar suara itu, Gu Xiaozhao perlahan berbalik menatapnya, wajahnya tetap tenang.

"Tuan muda kami hendak lewat, minggir kau ke samping..."

Pelayannya menunjuk Gu Xiaozhao, hidungnya terangkat tinggi, sikapnya angkuh seolah memerintah seorang pesuruh.

Gu Xiaozhao menahan senyum di sudut bibirnya, melirik sekilas ke arah Zhao yang sengaja menengadah ke langit di tengah kerumunan, lalu perlahan menyingkir dan menjawab singkat,

"Baik!"

"Bagus, tahu diri juga kau!"

Pelayannya menyeringai, kedua tangannya diremas hingga sendi-sendinya berderak.

"Dasar anak haram!"

Setelah berkata demikian, ia meludah ke tanah dengan suara keras.