Bab 140: Mu Xiaohu yang Memancarkan Aura Mendominasi (Mohon Dukungan Pembelian Perdana)
"Prang, prang, prang!"
Tepat ketika semua orang sedang berbincang, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Liu Lang, apakah Liu Lang ada di rumah?"
Sebuah suara memanggil dari luar.
"Lagi-lagi gerombolan Jiang Hong ini!"
Ekspresi Liu Lang langsung menunjukkan rasa tak berdaya begitu mendengar suara itu.
Lagu yang berjudul "Gadis Teman Sebangku" dan "Jalur Long March Baru" yang mendadak muncul dalam pertemuan gabungan perguruan tinggi telah membuat Jiang Hong, sang wakil ketua badan eksekutif mahasiswa, menjadi pusat perhatian. Namun, hal itu juga dengan cepat menarik perhatian sekelompok pencinta musik yang ingin mencari Liu Lang untuk membahas "misteri" musik. Akan tetapi, Liu Lang sangat sulit ditebak keberadaannya, sehingga mau tak mau mereka kembali mendatangi Jiang Hong dengan harapan pemuda itu bisa menjadi perantara.
Perlu diketahui bahwa orang-orang yang berkecimpung di dunia musik di ibu kota saat ini bukanlah orang sembarangan. Rata-rata mereka memiliki latar belakang tertentu dan sebagian besar merupakan anak-anak pejabat dari kompleks perumahan khusus. Jiang Hong yang setia kawan lantas membawa para pencinta musik itu berkeliling Universitas Huaxia hingga akhirnya berhasil mendapati Liu Lang di dalam kelas.
Mana sempat Liu Lang melayani omong kosong mereka? Namun, karena menghormati Jiang Hong, ia tetap meluangkan waktu untuk berdiskusi cukup lama dengan gerombolan yang tampak "setengah gila" itu. Lagipula, isi kepalanya penuh dengan jutaan lagu; menuliskan lirik secara sembarangan saja sudah cukup untuk membuat mereka terkejut. Contohnya, Liu Lang "begitu saja" menuliskan sebuah lagu berjudul "Xiao Fang" untuk mereka, yang liriknya secara samar-samar bersinggungan dengan gerakan turun ke desa di masa lalu, sehingga sangat mudah membangkitkan rasa nostalgia bagi orang-orang yang melewati era tersebut.
Seusai kejadian itu, Liu Lang sempat berpesan kepada Jiang Hong agar tidak sembarangan membawa orang menemuinya. Jiang Hong menyanggupinya dengan mantap, tetapi mengapa sekarang ia malah datang lagi?
Liu Lang membuka pintu, dan tampaklah empat orang berdiri di luar. Yang memimpin di depan adalah Jiang Hong, diikuti oleh Cui Jun, dan di belakang Cui Jun berdiri dua orang pria berusia sekitar dua puluh lima atau enam tahun dengan rambut panjang. Sekilas, mereka tampak seperti "seniman".
"Kakak Jiang, Kakak Cui, ada urusan apa lagi?"
"Haha, Liu Lang! Aku tadinya mengira kau sudah pulang kampung. Untunglah kau belum pergi. Kedatanganku hari ini membawa kabar baik!"
Tanpa sungkan-sungkan, Jiang Hong langsung melangkah masuk ke dalam rumah bersama rombongannya. Namun, pandangannya langsung tertuju pada Mu Xiaohu dan Lu Mingzhi yang sedang sibuk merakit "Megatron".
"Paman Lu? Kenapa Anda ada di sini?"
Jiang Hong bergegas melangkah maju menghampiri Lu Mingzhi.
"Haha, ternyata kamu, Jiang Hong! Bukankah sebentar lagi Tahun Baru? Aku datang untuk menengok Liu Lang kecil sekaligus mengucapkan selamat Tahun Baru lebih awal."
Ayah Jiang Hong juga merupakan seorang pejabat tinggi di kementerian tertentu. Bisa dibilang ia adalah rekan kerja Lu Mingzhi, jadi wajar saja jika Jiang Hong mengenal pria paruh baya itu.
"Jiang Hong, ada apa ini? Untuk apa kau datang ke tempat Liu Lang?"
Melihat dua pemuda berambut panjang yang mengekor di belakang Jiang Hong, Lu Mingzhi merasa sedikit tidak senang. Laki-laki kok berambut panjang, tidak mirip pria maupun wanita, mau jadi apa? Kendati mereka adalah teman Jiang Hong, ia tidak berkomentar apa-apa. Namun, untuk apa gerombolan ini mencari Liu Lang? Liu Lang adalah aset masa depan negara, jangan sampai ia terseret bergaul dengan orang-orang seperti ini.
"Paman Lu, mereka semua adalah seniman yang ingin menemui Liu Lang untuk berdiskusi seputar seni," jawab Jiang Hong buru-buru.
"Kakek Lu, Kak Xiaohu, kalian duduk dulu di kamar ini."
Ruangan itu sangat kecil, kedatangan tujuh atau delapan orang sekaligus membuat suasana menjadi sesak. Liu Lang buru-buru mempersilakan mereka.
"Hmm, Liu Lang, cepat singkirkan mereka. Urusan kita ini adalah urusan besar," kata Mu Xiaohu dengan raut wajah tidak senang.
Air muka Jiang Hong sedikit berubah. Menyuruh gerombolannya disingkirkan? Kalimat itu terdengar sangat menusuk di telinganya. Namun, ia langsung sadar bahwa pria ini datang bersama Lu Mingzhi, yang tampaknya juga merupakan tokoh berlatar belakang kuat, sehingga ia memilih untuk tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Cui Jun menatap Mu Xiaohu selama beberapa saat, merasa wajah itu tidak asing, tetapi ia tidak dapat mengingat siapa sebenarnya pria tersebut.
Namun, dua orang lainnya tampak jelas bersikap kurang ajar. Mereka tersenyum-senyum sambil mengamati sekeliling, lalu pandangan mereka tiba-tiba terpaku pada tiga buah robot yang diletakkan di atas meja.
"Barang apa ini?"
Tanpa merasa sungkan, mereka melangkah mendekat dan langsung mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
"Letakkan kembali! Siapa yang menyuruh kalian lancang menyentuh barang orang!"
Wajah Mu Xiaohu langsung berubah dingin.
"Hehe, kami kan cuma ingin melihat, disentuh sedikit saja tidak bakal rusak!"
Dengan senyum meringis, mereka berdua sama sekali tidak mengindahkan Mu Xiaohu dan tetap saja mendekat untuk meraba robot tersebut.
"Enyah kalian!"
Mu Xiaohu membelalakkan matanya, lalu tiba-tiba melayangkan tendangan telak tepat ke perut salah satu dari mereka. Pria itu langsung tersungkur ke lantai dan bahkan menyenggol termos air panas hingga pecah berkeping-keping dengan suara dentingan nyaring.
"Aduh!" teriak pria itu histeris, lalu bangkit berguling-guling dari lantai.
"Beraninya kau memukulku! Kau sudah bosan hidup, ya!"
Pria itu melotot penuh amarah, menyingsingkan lengan bajunya, dan bersiap menerjang Mu Xiaohu untuk berkelahi.
"Jangan berkelahi!"
Jiang Hong yang berada di dekatnya terkejut bukan kepalang dan buru-buru menengahi. Lu Mingzhi sedang berada di sini! Bagaimanapun juga, pria itu adalah pejabat setingkat menteri, sementara orang yang dibawanya justru terlibat perkelahian dengan orang lain. Bagaimana nanti penilaian Lu Mingzhi terhadap dirinya?
"Bosan hidup? Hehe, segerombolan bajingan tengik berani berlagak angkuh di hadapanku? Percayalah, sepatah kata dariku saja sudah cukup membuat kalian semua lenyap dari muka bumi!"
Siapa sebenarnya Mu Xiaohu? Orang-orang yang bergaul dengannya adalah keturunan para pahlawan revolusi. Bahkan menteri biasa pun sering ia pandang sebelah mata. Lu Mingzhi pun bisa akrab dengan keluarga Mu karena dulunya pernah menjadi dokter pribadi Kakek Mu. Ia sama sekali tidak mempedulikan "bajingan-bajingan kecil" ini. Terang saja, sepatah perintah darinya sudah cukup untuk memanggil sepasukan tentara bersenjata lengkap guna menangkap mereka semua.
"Sudahlah, apa-apaan kalian ini? Ini rumahku... Kakak Jiang, Kakak Cui, izinkan aku mengenalkan orang ini. Namanya Mu Xiaohu."
Liu Lang juga merasa amat kesal. Kedua pemuda berlagak "seniman" itu tampak begitu centil dan membuatnya risih. Mu Xiaohu bahkan lebih sewenang-wenang lagi karena langsung main pukul. Kalau mau berkelahi, sana di luar! Nah, sekarang gawat, termos air panasnya pecah; kalau ibunya pulang nanti, habislah ia dimarahi.
"Mu Xiaohu? Jangankan Mu Xiaohu, Harimau Mu sekalipun tidak akan kutakuti...!" teriak pria yang dipukul tadi sambil ngotot tidak terima.
"Mu Xiaohu...? Kau adalah Kak Lima? Kak Lima dari keluarga Mu?"
Jiang Hong seketika teringat sesuatu, dan rona wajahnya berubah drastis dalam sekejap.
"KAU tahu julukanku? Sepertinya kau juga anak dari kompleks perumahan khusus pejabat."
Mu Xiaohu melirik Jiang Hong sekilas lalu berkata dengan dingin.
"Kalian berdua, enyah dari sini sekarang juga! Pergi! Jangan tinggal di sini untuk mempermalukan diri sendiri!"
Jiang Hong berbalik dan membentak kedua pemuda itu dengan suara keras.
"Kau...!"
Pria itu hendak membantah, tetapi melihat Jiang Hong terus-menerus mengedipkan mata, ia akhirnya menyadari situasi yang sebenarnya. Keduanya mengurungkan niat untuk protes, lalu berbalik dan langsung ngibrit keluar rumah.
"Kak Lima, aku benar-benar minta maaf. Mereka itu anak seni dan tidak tahu aturan. Namaku Jiang Hong dari kompleks perumahan Luqin, ayahku Jiang Botao. Dan ini Cui Jun dari kompleks perumahan Kongqin. Kita semua adalah keluarga, sungguh kita adalah keluarga!"
Jiang Hong mendekati Mu Xiaohu dan menjawab dengan sikap sangat hormat.
"Oh, putra dari Menteri Perindustrian Mesin Jiang Botao ya. Aku kenal dia, aku kenal dia. Kalian berdua adalah anak-anak dari kompleks, kenapa malah bergaul dengan bajingan kecil seperti itu? Benar-benar mencoreng nama baik anak-anak kompleks kita!"
"Apa yang Kak Lima katakan memang benar. Aduh, semua ini gara-gara dikenalkan oleh teman, jadi tidak enak menolaknya. Kak Lima sendiri tahu kan bagaimana watak anak-anak kompleks kita yang suka menolong? Siapa sangka mereka berdua begitu tidak tahu aturan? Sebentar lagi akan kuusir mereka pergi, Kak Lima tidak perlu pusing memikirkannya... Anggap saja masalah ini selesai ya?" bujuk Jiang Hong memohon ampun.
"Hmm, demi kau yang bicara, baiklah masalah ini kuanggap selesai. Tapi sampaikan pada mereka, jangan sampai aku melihat muka mereka lagi di kemudian hari. Kalau sampai kutemui lagi, akan kupukul setiap kali aku melihat mereka, paham?"
Aura dominan Mu Xiaohu terpancar jelas.
"Tenang, tenang, akan segera kusampaikan pada mereka. Tunggu sebentar ya!"
Jiang Hong melesat keluar pintu bagaikan kilat dan secara diam-diam membisikkan identitas asli Mu Xiaohu kepada kedua orang tadi. Sebenarnya, kedua pemuda itu juga berasal dari keluarga pejabat, tetapi begitu mendengar bahwa pria tadi adalah Kak Lima dari keluarga Mu, mereka ketakutan setengah mati hingga nyawa mereka serasa melayang. Bagaimana bisa mereka begitu sial sampai tak sengaja menabrak salah satu penguasa nomor wahid di Kota Beijing?
Tanpa buang-buang waktu lagi, mereka langsung bergegas kabur, takut terlambat sedikit saja dan berujung pada kemarahan Mu Xiaohu.
"Kalian berdua ini sebenarnya mau apa datang ke rumah Liu Lang? Mau cari masalah? Asal kalian tahu, Liu Lang adalah adik kandungku sendiri. Siapa pun yang berani mencelakainya, aku orang pertama yang tidak akan tinggal diam!"
Mu Xiaohu kini telah menganggap Liu Lang sebagai dewa kekayaan, sehingga ia tentu harus pasang badan demi membela bocah itu.
"Kak Lima, Kak Lima, Anda salah paham. Kami dan Liu Lang adalah teman baik. Anda mungkin belum tahu, beberapa hari yang lalu dalam pertemuan gabungan perguruan tinggi di ibu kota, Liu Lang menciptakan dua buah lagu. Kedua lagu itu sekarang bahkan jauh lebih populer daripada lagu-lagu Teresa Teng, makanya orang-orang di dunia musik sangat ingin menemui Liu Lang," jawab Cui Jun buru-buru menengahi.
"Apa? Liu Lang, kau juga berkecimpung di dunia musik?"
Ucapan itu sukses membuat Mu Xiaohu dan Lu Mingzhi terperanjat kaget.
"Musik apa gerangan? Aku cuma iseng menulisnya saja," jawab Liu Lang sambil melambaikan tangan.
"Kakak Cui, bukankah kedua laguku itu sudah kuberikan kepadamu? Terserah kau saja mau diapakai bagaimana!"
Liu Lang sekarang merasa sedikit menyesal. Seandainya tahu bakal kerepotan begini, ia tidak akan sok pamer dan menciptakan lagu saat itu.
"Liu Lang! Kedatanganku sebenarnya juga ingin membahas hal ini denganmu. Seorang temanku mendengarkan kedua lagu itu dan merasa sangat tertarik, dia ingin merilisnya dalam bentuk kaset. Karena mau dibuat kaset, tentu saja aku harus meminta persetujuanmu dulu," kata Cui Jun sambil tersenyum.
"Mau dibuat kaset? Berapa banyak uang yang mereka bayarkan?"
Liu Lang langsung tertarik begitu mendengar kata uang.
"Hehe, soal itu belum dibicarakan sih, semuanya tersantung keputusanmu. Tapi dia bilang, kedua lagumu ini kualitasnya setara dengan lagu-lagu dari Hong Kong dan Taiwan, kalau dirilis dalam bentuk kaset pasti akan sangat laku di pasaran."
"Baiklah, tidak masalah. Nanti keuntungannya kita bagi berdua. Tapi Kakak Cui, menurutku kau juga harus mendirikan sebuah perusahaan dan berunding dengan mereka atas nama perusahaan, dengan begitu kita bisa menuntut keuntungan yang lebih besar."
"Benar, benar, apa katamu memang benar, Liu Lang. Aku juga sedang mempersiapkannya sekarang, bahkan aku juga sudah membuat dua lagu. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan karyamu, haha, jauh sekali!"
Percakapan antara Liu Lang dan Cui Jun itu membuat orang-orang lain yang mendengarkan menjadi tercengang-cengang. Urusan rilis kaset demi mencari uang, lalu mendirikan perusahaan sendiri... Sebenarnya apa sih yang hendak dilakukan oleh bocah bernama Liu Lang ini?
"Sudahlah Kakak Cui, urusan ini kita bicarakan lagi setelah aku kembali dari liburan. Lagipula tidak selisih sebulan lebih ini."
"Baiklah, baiklah, ikuti saja maumu!"
Cui Jun sangat mengagumi Liu Lang, sehingga ia akan menuruti apa pun titah bocah itu.
"Liu Lang, sebenarnya berapa banyak hal yang sedang kauurus? Bisnis kita ini mau dilanjutkan atau tidak?"
Mu Xiaohu di sampingnya mulai merasa tidak sabar.
"Kenapa tidak dilanjutkan? Urusan kita berdua ini adalah urusan yang paling utama. Merilis kaset paling-paling hanya menghasilkan sedikit uang. Robot-robot ini, jika bisa diproduksi secara massal, dolar akan mengalir masuk tanpa henti!" jawab Liu Lang.
"Bagus kalau kau paham... Aku benar-benar heran, bagaimana bisa seorang anak berusia empat atau lima tahun punya begitu banyak ide licik di kepalanya? Apa kau tidak kewalahan mengurus semuanya?"