Bab Seratus Lima Puluh Dua
Ada yang terasa ganjil.
Sosok berjubah hitam itu merenung dalam keheningan, merasa bahwa jalan hidupnya akhir-akhir ini telah menyimpang dari jalur yang semestinya.
Ribuan tahun telah berlalu, mengapa semuanya mendadak terasa salah sekarang?
Mengapa ia harus terpaku pada seorang manusia yang begitu lemah, bahkan mengikuti sisa auranya hingga merayap naik ke dalam gedung-gedung jangkung itu?
Semut-semut kecil yang lemah itu membangun ‘gedung’ dari tumpukan batu dan semen, terasa begitu kasar dan sama sekali tak ada bandingannya dengan kemegahan masa silam, hanya saja tempat itu bisa menampung lebih banyak orang untuk tinggal di dalamnya.
Jika dipikir-pikir, hal itu sebenarnya sungguh menggelikannya. Jauh sebelumnya, ia bersumpah untuk tidak akan pernah menginjakkan kaki ke tempat semacam itu.
Demi menjaga martabatnya sendiri.
Namun, entah bagaimana, begitu ia bertemu dengan gadis itu, ia justru tanpa sadar melangkah ke sana.
Menyelesaikan masalah sepele milik gadis itu hanyalah perbuatan iseng belaka, sama sekali tidak sebanding dengan nilai imbalan apa pun, tetapi harga dirinya yang tinggi justru membuatnya secara licik memaksa gadis itu bekerja untuknya.
Jika hal semacam itu diketahui oleh bangsa siluman, ia pasti akan menjadi bahan tertawaan yang empuk.
Ia tidak pernah memiliki banyak relasi sosial, dan ia juga tidak pernah ingin membiarkan dirinya menjadi bahan lelucon.
Jika desas-desus itu sampai menyebar, rasanya pasti sangat menyiksa jika ditertawakan orang lain.
Namun, kenyataannya ia tetap melakukan hal itu. Tanpa ada niat untuk menutup-nutupinya, ia bahkan menyisihkan satu hari setiap pekannya untuk merenungi diri di balik pintu tertutup, semata-mata karena diliputi kecemasan kalau-kalau manusia lemah itu tak sengaja berbenturan dengan bangsa siluman dan ia tidak berada di tempat untuk melindunginya dari marabahaya.
Sosok berjubah hitam itu tidak pernah meragukan kemampuannya sendiri, tetapi untuk pertama kalinya, ia diliputi oleh rasa gentar.
Bagaimanapun juga, manusia selalu rapuh dan lemah, seolah-olah tidak memiliki kekuatan sama sekali, dan bisa hancur berkeping-keping hanya dengan sekali tepukan ringan.
Tidak ada sandaran apa pun bagi mereka. Jika makhluk halus berniat mencelakai, mereka tidak akan memiliki daya untuk melawan.
Lemah, tak berdaya, dan penantian yang berujung pada kematian.
Jika ia benar-benar luput melihat dan membiarkan hal itu terjadi, maka itu akan menjadi dosa yang teramat nyata di lubuk hatinya.
Mengapa? Mengapa ia harus begitu berhati-hati dalam memperhatikan gadis itu?
Alasan apa gerangan yang membuatnya begitu ingin peduli pada keberadaan seseorang?
Sebenarnya apa istimewanya gadis itu, hingga ia rela melewatkan hari-hari berharganya hanya untuk dihabiskan bersamanya?
Sosok berjubah hitam itu tidak mampu memahaminya. Ia sering kali tenggelam dalam renungan yang dalam, namun tetap tidak pernah benar-benar menemukan alasan mengapa ia melakukan hal semacam itu. Ia hanya tahu bahwa ia memang telah melakukannya.
Bahkan hingga hari ini, demi sebuah tatapan mata, ia nekat menghabisi seorang pelanggan yang datang.
Padahal, ia bisa saja meraup keuntungan besar. Serigala itu—jika manusia lemah itu bisa disebut demikian—hanyalah sesosok makhluk rendahan yang bercampur dengan kaum manusia, terlalu rapuh untuk bisa bertahan hidup di dunia siluman.
Kini, makhluk itu datang membawanya kekayaan melimpah untuk berbisnis dengannya, yang dalam beberapa abad ke depan pasti akan berubah menjadi segenggam debu. Jelas sekali bahwa kedatangan mereka adalah untuk mengantarkan rezeki kepadanya.
Namun, peluang emas yang sudah di depan mata itu justru dibuang begitu saja olehnya.
Mengapa ia melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya? Mengapa hanya karena dorongan sesaat, ia tega membuang kesempatan untuk meraup kekayaan?
Jika memang seperti itu kenyataannya, untuk apa ia mendirikan toko kelontong kecil ini? Untuk apa ia mempertahankan bisnisnya?
Apakah hanya demi Zhong Sannian, ia harus menghancurkan prinsip yang telah ia pegang selama bertahun-tahun? Sungguh konyol. Namun, yang lebih konyol lagi adalah kenyataan bahwa ia benar-benar melakukannya.
Sosok berjubah hitam itu tidak mampu memahami isi hatinya sendiri, tetapi tindakannya telah telanjur dilakukan. Hendak menariknya kembali pun sudah tidak ada jalan; apa yang telah ia perbuat telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan.
Apakah ia… menyesal?
Menyesali perbuatan yang telah dilakukannya, atau menyesali mengapa pada saat itu ia menampakkan eksistensinya, hingga membuat manusia itu tanpa sengaja masuk ke dalam dunianya?
Tidak. Orang biasa tidak akan pernah bisa melihat tokonya. Kenyataan bahwa Zhong Sannian mampu melihat bayangan tokonya sudah menjadi bukti bahwa takdir kehidupan mereka telah digariskan sejak awal dan meninggalkan bekas yang mendalam.
Sekalipun ia tidak ikut campur, alur takdir itu memang sudah berjalan di tengah kekalutan. Kehadirannya hanyalah sebuah sisipan kecil dalam hidup gadis itu, tanpa mengubah jalurnya sama sekali.
Pikiran itu sempat mendatangkan sedikit rasa jengkel di hatinya, namun ia harus mengakui bahwa memang begitulah kenyataannya. Ia hanya hadir secara singkat selama kurun waktu satu tahun.
Dan dari tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun itu, gadis tersebut hanya datang bekerja di tempatnya selama lima puluh dua akhir pekan saja.
Kehadirannya di dalam rentang hidup Zhong Sannian yang mencapai seratus tahun hanyalah sekelumit waktu selama lima puluh dua hari.
Terlalu singkat untuk meninggalkan jeks yang nyata; semuanya berlalu begitu cepat bagaikan kedipan mata. Bahkan jika ia diminta mengenang kembali kehidupannya sendiri selama puluhan tahun silam, ia tidak akan ingat pernah terlibat dengan siapa pun.
Mungkin di dalam hati gadis itu, dirinya pun kelak akan dilupakan. Bertahun-tahun kemudian, gadis itu tidak akan lagi mengingat siapa sebenarnya dirinya.
Sosok seperti apa dirinya.
Bahkan mungkin akan melupakan toko kumuh miliknya ini.
Menjengkelkan.
Pemikiran semacam itu, yang bahkan belum berlangsung selama setengah detik, sudah cukup untuk memenuhi hatinya dengan rasa kesal.
Zhong Sannian masih terus menarik-narik jubahnya, mendesaknya untuk segera pergi menyelamatkan orang di luar sana yang jelas-jelas sedang bersandiwara.
Rasa kesal yang bergejolak dengan cepat menyerang benaknya, membuatnya secara tidak sadar melontarkan sebuah permintaan yang bahkan ia anggap konyol bagi dirinya sendiri.
Begitu kata-kata itu meluncur dari bibirnya, ia langsung menyesalinya. Permintaan yang ia ajukan terasa terlalu egois, tidak akan ada seorang pun yang sudi menjawabnya, bahkan permintaan semacam itu bisa merusak jalan yang harus mereka tempuh kelak, menciptakan keretakan di antara mereka berdua.
Hanya saja…
Sosok berjubah hitam yang serakah itu telah mengembara selama ribuan tahun. Urusan harta dan keuntungan selalu ia perhitungkan hingga ke pecahan terkecil. Ia tidak pernah membayangkan—bahkan konsep itu sama sekali tidak ada di dalam benaknya—bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang rela menggadaikan masa depan hidupnya demi seorang siluman yang baru saja dikenal tidak lama.
Atas dasar apa?
Apakah hubungan mereka begitu dekat? Bukankah sebelumnya hubungan mereka tampak begitu kaku?
Bocah bermarga Jin yang bermulut besar itu bukankah sosok yang sangat menyebalkan? Sejak kapan hubungan mereka meningkat menjadi ikatan antara hidup dan mati?
Tanpa sepengetahuannya, peristiwa apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa ia melewatkan begitu banyak hal?
Hati sosok berjubah hitam itu terasa sesak, sementara Zhong Sannian terus-menerus mendesaknya untuk segera keluar dan menyelamatkan orang.
Jelas sekali bahwa adegan di luar sana hanyalah sebuah sandiwara belaka.
Bahkan dari kelihatannya, efek yang ditimbulkan tampak begitu mulus tanpa menimbulkan cedera yang sesungguhnya.
Dari sudut pandang akting, sama sekali tidak ada niat untuk meyakinkan siluman sungguhan. Bisa dibilang bocah itu sedang mencari berbagai cara agar sang gadis mempercayainya.
Sosok berjubah hitam itu menatap ke luar dengan pandangan samar, merasa sedikit kebingungan untuk sejenak.
‘Hal semacam ini… apakah layak membuat pelayannya mempertaruhkan sisa hidupnya demi menyelamatkan sebuah sandiwara murahan?’
Namun, tepat di saat ia diliputi kebingungan, ia merasakan getaran emosi yang halus.
Ia mengalihkan pandangannya, dan yang tertangkap oleh matanya adalah bahu gadis muda itu yang sedang bergetar hebat. Tatapan penuh permohonan tertuju padanya, bibir gadis itu bergetar tanpa henti, dan wajahnya sudah kehilangan seluruh warna kemerahan darahnya.
Zhong Sannian mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya menancap andal ke dalam telapak tangan. Rasa sakit itu membuatnya sedikit tersadar, menatap satu-satunya tumpuan harapan yang bisa ia raih saat ini dengan permohonan yang tiada bertepi.
“Tuan, tolong selamatkan dia. Jin Taoyuan memang memiliki banyak kekurangan dan bersikap tidak sopan, tapi dia adalah orang yang baik.”
Pertemuan gadis itu dengan sosok berjubah hitam di masa lalu sebenarnya adalah sebuah musibah yang tak beralasan baginya.
Tanpa ada persetujuan yang matang, sebuah kontrak kerja selama satu tahun telah ditetapkan begitu saja. Bagi dirinya, hal itu tentu menjadi masalah yang memusingkan, yang secara tidak langsung juga mencerminkan bahwa atasannya ini adalah sosok yang berkepribadian unik dan tidak masuk akal.
Tabiatnya aneh dan rumit, mendekam di sebuah toko sempit dengan timbunan harta karun yang melimpah, bahkan terkadang gadis itu meragukan apakah bosnya ini bisa membaca laporan keuangan miliknya sendiri.
Kekayaan yang ada di tangannya sudah lebih dari cukup untuk merenovasi seluruh bangunan toko itu menjadi megah, namun ia lebih memilih untuk berjongkok seorang diri di sudut yang gelap dan sempit.
Orang semacam ini, dalam artian yang luas, adalah seorang manusia yang eksentrik.
Jika ia enggan menyelamatkan Jin Taoyuan, rasanya hal itu adalah sesuatu yang wajar.
Zhong Sannian mencengkeram erat ujung jubah pria itu, mengguncangnya perlahan, “Tuan!”
“Baiklah.”
Sosok berjubah hitam itu bahkan tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menyetujui permintaan konyol semacam itu.
Tidak, ia tidak berani membayangkan bahwa dirinya akan terseret ke dalam urusan yang begitu konyol.
Si Jin Taoyuan itu jelas-jelas sedang bersandiwara demi mencari simpati dari sang gadis.
Ia tidak menyangka bahwa situasi tidak berjalan sesuai dengan rencana Jin Taoyuan. Alih-alih menerobos maju secara membabi buta tanpa perhitungan untuk menyelamatkan kekasihnya, gadis itu justru mencari sosok yang memiliki kemampuan di tingkat yang lebih tinggi untuk memberikan pertolongan.
Gadis itu bahkan rela memperdagangkan sisa waktu masa depannya demi membeli sebuah penyelamatan. Betapa konyolnya hal itu, dipenuhi dengan ironi dan secercah rasa sinis di dalam hatinya.
Namun, sosok berjubah hitam itu tidak berniat memperpanjang masalah. Seluruh keuntungan yang ia inginkan telah berada di genggamannya, jadi tidak ada lagi alasan bagi hatinya untuk merasa janggal.
Tangannya terulur untuk menepuk pelan ujung jari Zhong Sannian yang sedang mencengkeram jubahnya, dengan tenaga yang sangat lembut, takut jika ia menggunakan sedikit saja kekuatan, jari-jari itu akan kembali membiru seperti pergelangan tangannya tempo hari.
Tidak ada secercah pun ekspresi sarkasme di wajahnya. Jubah hitam pekat itu terayun ke depan, membentuk gelombang aneh yang perlahan-lahan menyebar bagaikan riak air di atas permukaan danau. Sosoknya tidak menampakkan jejak langkah berjalan, melainkan melayang perlahan menuju kejauhan.
Zhong Sannian buru-buru menyusul di belakangnya. Sekalipun ia mengerahkan seluruh kecepatan berlarinya, ia tetap tertinggal sejauh belasan meter di belakang.
Gelombang ombak yang menutupi langit tampak bagaikan kristal transparan, bergulung dengan cepat sebelum akhirnya menghantam tanah dengan keras. Deburan demi deburan menggema menghantam permukaan tanah yang kokoh. Ubin-ubin tua yang rapuh itu seharusnya hancur berkeping-keping di bawah hantaman kekuatan sebesar itu.
Namun, di hadapan ombak yang menjulang tinggi tersebut, tanah tempat mereka berpijak sama sekali tidak bergeming, bahkan sehelai daun pun tidak ada yang tertiup angin.
Suara gemuruh yang tuli telinga menyebar dengan cepat, menggelegar hingga membuat tulang-tulang di dalam tubuh terasa ngilu. Langkah kaki Zhong Sannian pun ikut bergetar seiring dengan getaran halus yang merambat hingga ke sumsum tulangnya.
Dan bahaya nyata yang tersaji di depan mata itu terasa begitu menggelikan—setidaknya di mata sosok berjubah hitam, semua ini tidak lebih dari sekadar permainan anak-anak belaka.